BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hasil belajar merupakan bagian terpenting
dalam pembelajaran. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan
tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup
bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik (Nana Sudjana 2009: 3). Hasil
belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak
mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil
belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari
puncak proses belajar Dimyati dan Mudjiono (2006: 3-4).
Kegiatan belajar dan mengajar sasarannya adalah hasil belajar,
jika minat dan fasilitas belajar baik, maka diharapkan hasil belajarnya juga
baik. Adapun pengertian hasil belajar yang dikemukakan oleh Sudjana (1992:34)
bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia
menerima pengalaman belajar. Istilah hasil belajar tersusun atas dua kata, yakni: “hasil” dan “belajar”.
Sedangkan menurut Slameto (2003:2) “Belajar adalah suatu proses yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya. Menurut Sardiman, AM, (2014: 23) “belajar
adalah perubahan tingkah laku, dan terjadi karena hasil pengalaman”. Sejalan
dengan itu, Iskandar (2012: 102) mengatakan “belajar merupakan usaha yang
dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk merubah perilakunya”.
Kurniawan (2014: 4) mengatakan “belajar itu sebagai proses aktif internal individu dimana melalui
pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan menyebabkan terjadinya perubahn
tingkah laku yang relatif permanen”. Sedangkan, menurut Djamarah (2011: 13)
“belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan
lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor”. Baik atau tidaknya hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah minat baca, fasilitas
belajar dan literasi. Pengembangan kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan
literasi khususnya mengembangkan minat baca belum berjalan secara optimal di
sekolah karena beberapa guru memiliki pemahaman berbeda atau kurang memadai
tentang literasi. Pada era globalisasi ini, dimana kemajuan teknologi sudah
berkembang pesat, minat baca pada generasi baru cenderung menurun dan tidak
lebih baik dari generasi sebelumnya. Penyebabnya antara lain semakin canggihnya
piranti audio visual yang menyebabkan generasi baru lebih senang memanjakan
mata dan telinganya dari pada menumbuhkan semangat dan kebiasaan membaca serta
ketiadaan mata pelajaran membaca yang seharusnya diajarkan sejak dini pada pendidikan
dasar (Ginting, 2003:5). Membaca dianggap sebagai kegiatan
yang sangat penting, maka pemerintah
berusaha meningkatkan minat baca masyarakat terutama siswa sekolah melalui
berbagai kegiatan antara lain dengan diadakannya perpustakaan atau memperbanyak
buku-buku pengetahuan dan juga buku cerita dengan tujuan untuk merangsang anak
senang membaca. Membaca pada dasarnya merupakan awal dari penguasaan ilmu. Semua ilmu yang ada di bumi ini tidak
akan pernah bisa dipelajari jika tidak didahului dengan kemampuan untuk
membaca. Dengan membaca diharapkan mata rantai dalam penguasaan sebuah ilmu
tidak akan hilang. Mata rantai itu adalah mendengar, membaca dan melihat.
Istilah
literasi merupakan sesuatu yang terus berkembang atau terus berproses, yang
pada intinya adalah pemahaman terhadap teks dan konteksnya sebab manusia
berurusan dengan teks sejak dilahirkan, masa kehidupan, hingga kematian.
Keterpahaman terhadap beragam teks akan membantu keterpahaman kehidupan dan
berbagai aspeknya karena teks itu representasi dari kehidupan individu dan
masyarakat dalam budaya masing-masing. Semuanya mengarah pada pemahaman
multiliterasi. Adapun pembelajaran yang bersifat multiliterasi, memadukan
karakter, dan keterampilan abad ke-21 (keterampilan berpikir tingkat tinggi;
4Cs: Critical thinking and problem
solving, Creativity and innovation; Collaboration, teamwork and leadership,
Communication and media fluency), diharapkan dapat menjadi bekal kecakapan
hidup sepanjang hayat. Saat ini, kegiatan di sekolah ditengarai belum optimal
mengembangkan kemampuan literasi warga sekolah, khususnya guru dan siswa. Hal
ini disebabkan, antara lain oleh minimnya pemahaman warga sekolah terhadap
pentingnya kemampuan literasi dalam kehidupan mereka serta minimnya penggunaan
buku-buku di sekolah (selain buku-teks pelajaran). Kegiatan membaca di sekolah
masih terbatas pada pembacaan buku teks pelajaran dan belum melibatkan jenis
bacaan lain.
Pada sisi lain, hasil beberapa
tes yang telah dilakukan adalah sebagai berikut.
1. PIRLS atau Progress
International Reading Literacy Study (PIRLS) mengevaluasi kemampuan membaca
peserta didik kelas IV. Dalam PIRLS 2011
International in Reading, Indonesia menduduki peringkat 45 dari 48 negara
peserta dengan skor 428 dari skor rata-rata 500 (IEA, 2012)
2. PISA atau Programme for
International Student Assessment mengevaluasi kemampuan peserta didik
berusia 15 tahun dalam hal membaca, matematika, dan sains. PISA 2009 peserta
didik Indonesia berada dalam peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata
OECD 493) dan di tahun 2012 peringkat ke-64 dari 65 negara dengan skor 396
(skor rata-rata OECD 496) (OECD, 2013), Sedangkan tahun 2015 peringkat 64 dari 70 negara.
3. INAP atau Indonesia National Assassment Program (INAP) mengevaluasi kemampuan siswa dalam hal membaca,
matematika, dan sains. Hasil INAP tahun 2016 menunjukkan bahwa nilai kemampuan
membaca peserta didik Inonesia 46,83% (kurang)
Data ini
selaras dengan temuan UNESCO (2012) terkait kebiasaan membaca masyarakat
Indonesia yang menyatakan bahwa hanya satu dari 1.000 orang Indonesia yang
membaca. Kondisi demikian ini jelas
memprihatinkan karena kemampuan dan keterampilan membaca merupakan dasar bagi
pemerolehan pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan sikap peserta didik.
Oleh sebab itu, dibentuklah Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai
salah satu alternatif untuk menumbuhkembangkan budi
pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar
mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat (Wiedarti dan Kisyani-L. ed., 2016).
Upaya sistematis
dan berkesinambungan perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi
siswa. GLS untuk menumbuhkan minat baca dan kecakapan literasi telah
dicanangkan sejak tahun 2016, namun saat ini belum terlalu menyentuh aspek
pembelajaran di kelas. Beberapa panduan terkait GLS telah diterbitkan tahun
2016 oleh Dikdasmen Kemendikbud, yakni (1) Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah,
(2) Panduan Gerakan Literasi Sekolah (untuk setiap jenjang pendidikan), antara
lain Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan. Saat ini,
GLS perlu disempurnakan dengan panduan Bimbingan Teknis dan Pelatihan atau
Penyegaran untuk memampukan guru melaksanakan strategi literasi dalam
pembelajaran. Salah satu pelatihan tersebut adalah Pelatihan dan/atau Bimbingan
Teknis Penyegaran Instruktur Kurikulum 2013. Materi yang disajikan tentang
kegiatan pembiasaan berliterasi, macam metode membaca, memilih buku yang baik,
membangun lingkungan kaya teks, pojok baca (area baca di sekolah) dan
perpustakaan kelas terutama menekankan pada peningkatan
keterampilan mengelola pembelajaran dengan strategi
literasi untuk meningkatkan kecakapan literasi siswa, membentuk karakter, dan
mengembangkan keterampilan abad ke-21 (keterampilan berpikir tingkat tinggi dan
4Cs). Keterampilan berpikir tingkat tinggi (keterampilan abad ke-21) merupakan
salah satu kompetensi capaian implementasi Kurikulum 2013.
Selain pembiasaan gerakan literasi dan
pembinaan minat baca, fasilitas belajar juga merupakan aspek yang penting dalam
meningkatkan prestasi belajar siswa. Sarana dan prasarana belajar adalah sesuatu
yang dapat memudahkan dan memperlancar pelaksanaan suatu usaha yang dapat
berupa benda. Dalam hal ini sarana dan prasarana belajar bisa disamakan dengan
fasilitas belajar. Besar kemungkinan sarana dan prasarana belajar merupakan
faktor yang mempunyai andil besar dalam meningkatkan hasil belajar. Kegiatan
belajar mengajar merupakan komunikasi dua arah antara tenaga pendidik dan
peserta didik, maka diperlukan sarana dan prasarana untuk mendukungnya seperi
media, ruangan kelas, dan buku sumber. Proses pendidikan itu terdiri dari
beberapa unsur yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Unsur tersebut
antara lain tenaga pendidik,peserta didik,materi pelajaran,sarana dan prasarana
belajar, dan lain-lain. Fasilitas belajar merupakan semua yang diperlukan dalam
proses belajar mengajar baik bergerak maupun tidak bergerak agar tercapai
tujuan pendidikan berjalan lancar, teratur, efektif dan efisien”. Sarana prasarana belajar merupakan suatu
fasilitas yang diperlukan bagi siswa dalam mencapai tujuan belajar melalui
kegiatan belajar dalam bentuk penyelidikan dan penemuan untuk mendapatkan
pemahaman tentang masalah-masalah yang dipelajari Menurut Nana Syaodih (2009,
h.49) “.
SMK Bhakti Luhur Malang adalah sebuah Lembaga pendidikan yang
mendidik dan membina peserta didik yang beraspek multikultural. Peserta didik
berasal dari berbagai daerah yang ada di seluruh Indonesia dan memiliki latar
belakang yang berbeda-beda. SMK Bhakti Luhur dalam proses pembelajaran
menggunakan Kurikulum 2013 yang dicanangkan oleh pemerintah. Mata pelajaran Sejarah Indonesia merupakan bagian dari
mata pelajaran kelompok A (wajib) yang diberikan pada jenjang pendidikan
menengah (SMA/MA dan SMK/MAK). Mata pelajaran Sejarah Indonesia memiliki arti
strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa Indonesia. Dalam proses pembelajaran di SMK Bhakti Luhur
Malang banyak mengalami hambatan diantaranya adalah rendahnya minat baca yang
berdampak pada hasil belajar siswa. Suherman (dalam Naim: 2013: 10) menyebutkan setidaknya ada tiga faktor
yang menjadi penyebab rendahya minat baca. Pertama, kondisi warisan dari orang
tua. Mulai dari kakek neneknya memang tidak suka membaca dan sifat ini
diteruskan ke generasi berikutnya. Ini yang disebut determinisme genetis.
Kedua, seseorang tidak senang membaca karena memang sejak kecil dibesarkan oleh
orang tua yang tidak pernah mendekatkan dirinya dengan bacaan. Dia tidak senang
membaca karena tidak diberi teladan oleh orang tuanya. Pengasuhan dan
pengalaman masa kanak-kanaknya pada dasarnya membentuk kecenderungan pribadi
dan susunan karakter. Ini yang disebut determinisme psikis. Ketiga, determinisme
lingkungan pada dasarnya mengatakan bahwa seseorang tidak senang membaca karena
atasan atau bawahan, teman, guru atau dosen tidak senang membaca. Selain itu,
di rumah, kantor, dan sekolah tidak disediakan perpustakaan serta tidak ada
peraturan yang mengharuskan untuk membaca. situasi ekonomi yang kurang
mendukung dan tidak adanya kebijakan nasional tentang minat membaca menjadikan
membaca menjadi suatu hal yang sulit ditumbuhkembangkan. Seseorang atau sesuatu
yang ada di lingkungan bertanggungjawab atas rendahnya minat membaca pada diri
seseorang. Berdasarkan latarbelakang
masalah tersebut, peneliti memilih judul “Pengaruh Gerakan Literasi, Minat baca
dan Fasilitas Belajar terhadap hasil belajar Siswa di SMK Bhakt Luhur Malang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka
peneliti merumuskan permasalahan dalam penelitian sebagai berikut:
1. Apakah ada pengaruh gerakan literasi terhadap hasil
belajar?
2. Apakah ada pengaruh minat baca terhadap hasil belajar?
3. Apakah ada pengaruh gerakan literasi terhadap minat
baca?
4. Apakah ada pengaruh fasilitas belajar terhadap hasil
belajar?
5. Apakah ada pengaruh gerakan literasi, minat baca dan
fasilitas belajar terhadap hasil belajar?
1.3 Tujuan Penelitian:
Sesuai
dengan permasalahan yang ada, maka tujuan yang ingin dicapai adalah dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis:
1. Pengaruh gerakan literasi terhadap hasil belajar
2. Pengaruh minat baca terhadap hasil belajar
3. Pengaruh gerakan literasi terhadap minat baca
4. Pengaruh fasilitas belajar terhadap hasil belajar
5. Pengaruh gerakan literasi, minat baca, dan fasilitas
belajar terhadap hasil belajar.
1.4 Manfaat Penelitian;
1. Manfaat
teoritis
Secara teoritis manfaat yang ingin dicapai
dalam penelitian ini adalah memberikan gambaran atau deskripsi mengenai gerakan
literasi, minat baca dan fasilitas belajar
serta pengembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.
2. Manfaat
praktis
Diharapkan hasil penelitian memberikan
manfaat bagi sekolah dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan juga berguna bagi siswa agar mereka menyadari
bahwa pembiasaan membaca adalah hal yang
sangat penting untuk menambah wawasan dan
pengetahuan serta dapat meningkatkan prestasi belajar.
No comments:
Post a Comment