Wednesday, July 31, 2019

Gerakan Literasi dan Hasil Belajar@kanustalame




BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik (Nana Sudjana 2009: 3). Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar Dimyati dan Mudjiono (2006: 3-4). 
Kegiatan belajar dan mengajar sasarannya adalah hasil belajar, jika minat dan fasilitas belajar baik, maka diharapkan hasil belajarnya juga baik. Adapun pengertian hasil belajar yang dikemukakan oleh Sudjana (1992:34) bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Istilah hasil belajar tersusun  atas dua kata, yakni: “hasil” dan “belajar”. Sedangkan menurut Slameto (2003:2) “Belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Sardiman, AM, (2014: 23) “belajar adalah perubahan tingkah laku, dan terjadi karena hasil pengalaman”. Sejalan dengan itu, Iskandar (2012: 102) mengatakan “belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk merubah perilakunya”. Kurniawan (2014: 4) mengatakan “belajar itu sebagai proses aktif  internal individu dimana melalui pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan menyebabkan terjadinya perubahn tingkah laku yang relatif permanen”. Sedangkan, menurut Djamarah (2011: 13) “belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan  psikomotor”. Baik atau tidaknya hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah minat baca, fasilitas belajar dan literasi. Pengembangan kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan literasi khususnya mengembangkan minat baca belum berjalan secara optimal di sekolah karena beberapa guru memiliki pemahaman berbeda atau kurang memadai tentang literasi. Pada era globalisasi ini, dimana kemajuan teknologi sudah berkembang pesat, minat baca pada generasi baru cenderung menurun dan tidak lebih baik dari generasi sebelumnya. Penyebabnya antara lain semakin canggihnya piranti audio visual yang menyebabkan generasi baru lebih senang memanjakan mata dan telinganya dari pada menumbuhkan semangat dan kebiasaan membaca serta ketiadaan mata pelajaran membaca yang seharusnya diajarkan sejak dini pada pendidikan dasar (Ginting, 2003:5). Membaca dianggap sebagai kegiatan yang sangat penting, maka  pemerintah berusaha meningkatkan minat baca masyarakat terutama siswa sekolah melalui berbagai kegiatan antara lain dengan diadakannya perpustakaan atau memperbanyak buku-buku pengetahuan dan juga buku cerita dengan tujuan untuk merangsang anak senang membaca. Membaca pada dasarnya merupakan awal dari penguasaan  ilmu. Semua ilmu yang ada di bumi ini tidak akan pernah bisa dipelajari jika tidak didahului dengan kemampuan untuk membaca. Dengan membaca diharapkan mata rantai dalam penguasaan sebuah ilmu tidak akan hilang. Mata rantai itu adalah mendengar, membaca dan melihat.
Istilah literasi merupakan sesuatu yang terus berkembang atau terus berproses, yang pada intinya adalah pemahaman terhadap teks dan konteksnya sebab manusia berurusan dengan teks sejak dilahirkan, masa kehidupan, hingga kematian. Keterpahaman terhadap beragam teks akan membantu keterpahaman kehidupan dan berbagai aspeknya karena teks itu representasi dari kehidupan individu dan masyarakat dalam budaya masing-masing. Semuanya mengarah pada pemahaman multiliterasi. Adapun pembelajaran yang bersifat multiliterasi, memadukan karakter, dan keterampilan abad ke-21 (keterampilan berpikir tingkat tinggi; 4Cs: Critical thinking and problem solving, Creativity and innovation; Collaboration, teamwork and leadership, Communication and media fluency), diharapkan dapat menjadi bekal kecakapan hidup sepanjang hayat.          Saat ini, kegiatan di sekolah ditengarai belum optimal mengembangkan kemampuan literasi warga sekolah, khususnya guru dan siswa. Hal ini disebabkan, antara lain oleh minimnya pemahaman warga sekolah terhadap pentingnya kemampuan literasi dalam kehidupan mereka serta minimnya penggunaan buku-buku di sekolah (selain buku-teks pelajaran). Kegiatan membaca di sekolah masih terbatas pada pembacaan buku teks pelajaran dan belum melibatkan jenis bacaan lain.
Pada sisi lain, hasil beberapa tes yang telah dilakukan adalah sebagai berikut.
1.    PIRLS atau Progress International Reading Literacy Study (PIRLS) mengevaluasi kemampuan membaca peserta didik kelas IV. Dalam PIRLS 2011 International in Reading, Indonesia menduduki peringkat 45 dari 48 negara peserta dengan skor 428 dari skor rata-rata 500 (IEA, 2012)
2.    PISA atau Programme for International Student Assessment mengevaluasi kemampuan peserta didik berusia 15 tahun dalam hal membaca, matematika, dan sains. PISA 2009 peserta didik Indonesia berada dalam peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493) dan di tahun 2012 peringkat ke-64 dari 65 negara dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 496) (OECD, 2013), Sedangkan tahun 2015 peringkat 64 dari 70 negara.
3.    INAP atau Indonesia National Assassment Program (INAP) mengevaluasi kemampuan siswa dalam hal membaca, matematika, dan sains. Hasil INAP tahun 2016 menunjukkan bahwa nilai kemampuan membaca peserta didik Inonesia 46,83% (kurang)
Data ini selaras dengan temuan UNESCO (2012) terkait kebiasaan membaca masyarakat Indonesia yang menyatakan bahwa hanya satu dari 1.000 orang Indonesia yang membaca.  Kondisi demikian ini jelas memprihatinkan karena kemampuan dan keterampilan membaca merupakan dasar bagi pemerolehan pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan sikap peserta didik. Oleh sebab itu, dibentuklah Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai salah satu alternatif untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat (Wiedarti dan Kisyani-L. ed., 2016).
Upaya sistematis dan berkesinambungan perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. GLS untuk menumbuhkan minat baca dan kecakapan literasi telah dicanangkan sejak tahun 2016, namun saat ini belum terlalu menyentuh aspek pembelajaran di kelas. Beberapa panduan terkait GLS telah diterbitkan tahun 2016 oleh Dikdasmen Kemendikbud, yakni (1) Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, (2) Panduan Gerakan Literasi Sekolah (untuk setiap jenjang pendidikan), antara lain Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan. Saat ini, GLS perlu disempurnakan dengan panduan Bimbingan Teknis dan Pelatihan atau Penyegaran untuk memampukan guru melaksanakan strategi literasi dalam pembelajaran. Salah satu pelatihan tersebut adalah Pelatihan dan/atau Bimbingan Teknis Penyegaran Instruktur Kurikulum 2013. Materi yang disajikan tentang kegiatan pembiasaan berliterasi, macam metode membaca, memilih buku yang baik, membangun lingkungan kaya teks, pojok baca (area baca di sekolah) dan perpustakaan kelas  terutama menekankan pada peningkatan keterampilan mengelola pembelajaran dengan strategi literasi untuk meningkatkan kecakapan literasi siswa, membentuk karakter, dan mengembangkan keterampilan abad ke-21 (keterampilan berpikir tingkat tinggi dan 4Cs). Keterampilan berpikir tingkat tinggi (keterampilan abad ke-21) merupakan salah satu kompetensi capaian implementasi Kurikulum 2013.
Selain pembiasaan gerakan literasi dan pembinaan minat baca, fasilitas belajar juga merupakan aspek yang penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Sarana dan prasarana belajar adalah sesuatu yang dapat memudahkan dan memperlancar pelaksanaan suatu usaha yang dapat berupa benda. Dalam hal ini sarana dan prasarana belajar bisa disamakan dengan fasilitas belajar. Besar kemungkinan sarana dan prasarana belajar merupakan faktor yang mempunyai andil besar dalam meningkatkan hasil belajar. Kegiatan belajar mengajar merupakan komunikasi dua arah antara tenaga pendidik dan peserta didik, maka diperlukan sarana dan prasarana untuk mendukungnya seperi media, ruangan kelas, dan buku sumber. Proses pendidikan itu terdiri dari beberapa unsur yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Unsur tersebut antara lain tenaga pendidik,peserta didik,materi pelajaran,sarana dan prasarana belajar, dan lain-lain. Fasilitas belajar merupakan semua yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik bergerak maupun tidak bergerak agar tercapai tujuan pendidikan berjalan lancar, teratur, efektif dan efisien”.  Sarana prasarana belajar merupakan suatu fasilitas yang diperlukan bagi siswa dalam mencapai tujuan belajar melalui kegiatan belajar dalam bentuk penyelidikan dan penemuan untuk mendapatkan pemahaman tentang masalah-masalah yang dipelajari Menurut Nana Syaodih (2009, h.49) “.
SMK Bhakti Luhur Malang adalah sebuah Lembaga pendidikan yang mendidik dan membina peserta didik yang beraspek multikultural. Peserta didik berasal dari berbagai daerah yang ada di seluruh Indonesia dan memiliki latar belakang yang berbeda-beda. SMK Bhakti Luhur dalam proses pembelajaran menggunakan Kurikulum 2013 yang dicanangkan oleh pemerintah. Mata pelajaran Sejarah Indonesia merupakan bagian dari mata pelajaran kelompok A (wajib) yang diberikan pada jenjang pendidikan menengah (SMA/MA dan SMK/MAK). Mata pelajaran Sejarah Indonesia memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa Indonesia. Dalam proses pembelajaran di SMK Bhakti Luhur Malang banyak mengalami hambatan diantaranya adalah rendahnya minat baca yang berdampak pada hasil belajar siswa. Suherman (dalam Naim: 2013: 10) menyebutkan setidaknya ada tiga faktor yang menjadi penyebab rendahya minat baca. Pertama, kondisi warisan dari orang tua. Mulai dari kakek neneknya memang tidak suka membaca dan sifat ini diteruskan ke generasi berikutnya. Ini yang disebut determinisme genetis. Kedua, seseorang tidak senang membaca karena memang sejak kecil dibesarkan oleh orang tua yang tidak pernah mendekatkan dirinya dengan bacaan. Dia tidak senang membaca karena tidak diberi teladan oleh orang tuanya. Pengasuhan dan pengalaman masa kanak-kanaknya pada dasarnya membentuk kecenderungan pribadi dan susunan karakter. Ini yang disebut determinisme psikis. Ketiga, determinisme lingkungan pada dasarnya mengatakan bahwa seseorang tidak senang membaca karena atasan atau bawahan, teman, guru atau dosen tidak senang membaca. Selain itu, di rumah, kantor, dan sekolah tidak disediakan perpustakaan serta tidak ada peraturan yang mengharuskan untuk membaca. situasi ekonomi yang kurang mendukung dan tidak adanya kebijakan nasional tentang minat membaca menjadikan membaca menjadi suatu hal yang sulit ditumbuhkembangkan. Seseorang atau sesuatu yang ada di lingkungan bertanggungjawab atas rendahnya minat membaca pada diri seseorang. Berdasarkan latarbelakang masalah tersebut, peneliti memilih judul “Pengaruh Gerakan Literasi, Minat baca dan Fasilitas Belajar terhadap hasil belajar Siswa di SMK Bhakt Luhur Malang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka peneliti merumuskan permasalahan dalam penelitian sebagai berikut:
1.    Apakah ada pengaruh gerakan literasi terhadap hasil belajar?
2.    Apakah ada pengaruh minat baca terhadap hasil belajar?
3.    Apakah ada pengaruh gerakan literasi terhadap minat baca?
4.    Apakah ada pengaruh fasilitas belajar terhadap hasil belajar?
5.    Apakah ada pengaruh gerakan literasi, minat baca dan fasilitas belajar terhadap hasil belajar?



1.3 Tujuan Penelitian:
Sesuai dengan permasalahan yang ada, maka tujuan yang ingin dicapai adalah dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis:
1.    Pengaruh gerakan literasi terhadap hasil belajar
2.    Pengaruh minat baca terhadap hasil belajar
3.    Pengaruh gerakan literasi terhadap minat baca
4.    Pengaruh fasilitas belajar terhadap hasil belajar
5.    Pengaruh gerakan literasi, minat baca, dan fasilitas belajar terhadap hasil belajar.
1.4 Manfaat Penelitian;

1.    Manfaat teoritis

Secara teoritis manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah memberikan gambaran atau deskripsi mengenai gerakan literasi, minat baca dan fasilitas belajar serta pengembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.

2.    Manfaat praktis

Diharapkan hasil penelitian memberikan manfaat bagi sekolah dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan juga berguna bagi siswa agar mereka menyadari bahwa pembiasaan membaca adalah hal yang sangat penting untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta dapat meningkatkan prestasi belajar.


No comments:

Post a Comment