Monday, November 5, 2018

PERUBAHAN SOSIAL




BAB I
PENDAHULUAN
1.      LATAR BELAKANG
Secara biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan menurut Ensiklopedi Amerika,perilaku adalah suatu aksi reaksi organisme terhadap lingkungan. Perilaku timbul apabila ada sesuatu yang dapat menimbulkan reaksi, yakni disebut dengan rangsangan. Menurut Ribert Kwick(1974) perilaku adalah tindakan atau perilaku suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari. Secara umum perilaku manusia pada hakekatnya adalah proses interaksi individu dengan lingkungan sebagai manivestasi hayati bahwa dia adalah makhluk hidup.
Individu merupakan unit terkecil pembentuk masyarakat.  Dalam ilmu sosial, individu berarti juga bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisahkan lagi menjadi bagian yang lebih kecil.  Sebagai contoh, suatu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak.  Pada dasarnya, setiap individu memiliki ciri-ciri yang berbeda.
Individu tidak dapat terpisahkan dari kelompok, begitu juga kelompok tidak dapat terpisahkan dari masyarakat. Ketiga aspek itu saling berkaitan. Apabila keadaan individu baik, keadaan kelompok juga akan baik dan begitu juga sebaliknya.
Perubahan dalam masyarakat dapat disebabkan oleh banyak hal antara lain pembangunan dan modernisasi. Pembangunan merupakan suatu perubahan yang pada umunya terjadi karena disengaja.
Modernisasi merupakan perubahan masyarakat dan kebudayaan dalam seluruh aspeknya dari hal-hal yang bersifat tradisional menuju hal-hal yang bersifat modern yang memungkinkan ternjadinya proses pergeseran sikap dan mentalitas warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan zaman.
Modernisasi terjadi di hampir seluruh aspek atau bidang hidup masyarakat seperti pendidikan, agama, politik, kesehatan, ekonomi, teknologi dan lain-lain. Namun modernisasi berbeda dengan westernisasi. Westernisasi adalah sikap meniru dan menerapkan unsur kebudayaan barat sebagaimana adanya, tanpa diseleksi (Ruswanto, 2009b). Dikatakan lebih jauh oleh Ruswanto (2009b) westernisasi terjadi melalui interaksi sosial yang berupa kontak sosial langsung ataupun tidak langsung, seperti melalui media massa dan lain-
2.      RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latarbelakang diatas, masalah yang diangkat penulis sebagai berikut:
1.      Faktor apa yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam sistem personalia (perilaku indidu)
2.      Faktor apa yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam sistem peradaban (civilization)?
3.      Bagaimana hubungan antara perubahan sistem personalia(perilaku individu) terhadap perubahan sistem peradaban (civilization)?
3.      TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai adalah:

1.      Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya perubahan dalam sistem personalia (perilaku indidu)
2.       Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya perubahan dalam sistem peradaban (civilization)
3.      Untuk mengetahui hubungan antara perubahan sistem personalia(perilaku individu) terhadap perubahan sistem peradaban (civilization)








BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sistem Personalia
            Suatu perbuatan dimulai dengan adanya suatu ketidakseimbangan dalam diri individu, hal ini menimbulkan kebutuhan kemudian timbul gerakan atau motif untuk berperilaku dan terjadilah keseimbangan dalam diri seperti rasa puas dan gembira. Keadaan seimbang itu tidak akan berlangsung untuk selama-lamanya, karena setelah beberapa saat akan timbul ketidakseimbangan lagi, yang menyebabkan seluruh proses motivasi terulang.
Faktor- faktor yang mempengaruhi perilaku manusia juga dapat dilihat dari:
1.      Faktor Internal
Perilaku manusia adalah corak kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh faktor yang ada dalam dirinya. Faktor-faktor intern yang dimaksud adalah:
a.    Jenis Ras atau Keturunan
Setiap ras yang ada di dunia memperlihatkan perilaku yang khas. Perilaku khas ini berbeda pada setiap ras, karena memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri perilaku ras Negroid antara lain bertemperamen keras, tahan menderita, menonjol dalam kegiatan olah raga. Ras Mongolid mempunyai ciri ramah, senang bergotong royong, agak tertutup/pemalu dan sering mengadakan upacara ritual. Demikian pula beberapa ras lain memiliki ciri perilaku yang berbeda pula.
b.    Jenis Kelamin
Perbedaan perilaku berdasarkan jenis kelamin antara lain cara berpakaian, melakukan pekerjaan sehari-hari, dan pembagian tugas pekerjaan. Perbedaan ini bisa dimungkikan karena faktor hormonal, struktur fisik maupun norma pembagian tugas. Wanita seringkali berperilaku berdasarkan perasaan, sedangkan orang laki-laki cenderung berperilaku atau bertindak atas pertimbangan rasional.
c.     Sifat Fisik
Kretschmer Sheldon membuat tipologi perilaku seseorang berdasarkan tipe fisiknya. Misalnya, orang yang pendek, bulat, gendut, wajah berlemak adalah tipe piknis. Orang dengan ciri demikian dikatakan senang bergaul, humoris, ramah dan banyak teman.
d.    Kepribadian
Kepribadian adalah segala corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsang baik yang datang dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak dan kebiasaan itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas untuk manusia itu. Dari pengertian tersebut, kepribadian seseorang jelas sangat berpengaruh terhadap perilaku sehari-harinya.
e.     Intelegensi
Intelegensia adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah dan efektif. Bertitik tolak dari pengertian tersebut, perilaku individu sangat dipengaruhi oleh intelegensia. Perilaku yang dipengaruhi oleh intelegensia adalah perilaku intelegen di mana seseorang dapat bertindak secara cepat, tepat, dan mudah terutama dalam mengambil keputusan.
f.      Bakat
Bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya berupa kemampuan memainkan musik, melukis, olah raga, dan sebagainya.

2.      Faktor Eksternal
a.     Pendidikan
Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses belajar mengajar adalah seperangkat perubahan perilaku. Dengan demikian pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan rendah.
b.     Agama
Agama akan menjadikan individu berperilaku sesuai dengan norma dan nilai yang diajarkan oleh agama yang diyakininya.
c.     Kebudayaan
Kebudayaan diartikan sebagai kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia. Perilaku seseorang dalam kebudayaan tertentu akan berbeda dengan orang yang hidup pada kebudayaan lainnya, misalnya perilaku orang Jawa dengan perilaku orang Papua.
d.     Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya. Individu terus berusaha menaklukkan lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat dikuasainya.
e.     Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi seseorang akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi perilaku seseorang.    
2.2  Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sistem peradaban (civilization)
Terjadinya perubahan dalam masyarakat, pada prinsipnya berasal dari sifat manusia yang tidak akan pernah puas dan mudah bosan dengan keadaan yang dialaminya. Perubahan sosial dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri (internal) atau faktor-faktor yang berasal dari luar masyarakat itu sendiri (eksternal). Soekanto (dalam Wrahatnala, 2009); Wrahatnala, (2009); Maryati & Suryawati (2010) menjelaskan faktor-faktor yang dapat membawa perubahan dalam masyarakat. Adapun faktor-faktor tersebut adalah:
1.      Kemiskinan
Kemiskinan adalah suatu keadaan dimana individu tidak sanggup memelihara dirinya sendiri secara layak serta tidak mampu memanfaatkan tenaga mental dan fisiknya dalam kelompoknya (Maryati & Suryawati, 2010). Dengan situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu, maka semakin banyak masyarakat yang masuk ke dalam kategori ini. Kemiskinan membawa berbagai perubahan dalam masyarakat.    .
2.      Adanya Pertambahan penduduk 
Pertambahan penduduk menyebabkan adanya konsekuensi adanya penambahan tempat tinggal, lapangan pekerjaan, sistem kekeluargaan, kebutuhan akan bahan makanan dan lain-lain.     
3.       Adanya konflik sosial  
Konflik sosial dapat membawa perubahan dalam masyarakat. Salah satunya karena konflik sosial membawa potensi adanya kekerasan dalam masyarakat. Contohnya adalah perseteruan antara pendukung sepak bola, tawuran dan lain-lain. Meski demikian tidak setiap konflik sosial berakhir dengan kekerasan.     
4.      Adanya pemberontakan     
Pemberontakan seperti revolusi, dan sejenisnya dapat membawa perubahan dalam masyarakat di sekitarnya.
5.      Berkurangnya penduduk   
Berkurangnya penduduk dapat disebabkan karena bencana alam, peperangan, atau dan lain sebagainya.          
6.      Inovasi atau Penemuan baru   
Penemuan baru juga dapat membawa perubahan dalam masyarakat.
7.      Lingkungan alam   
Perubahan yang terjadi di lingkungan alamiah kita dapat membawa suatu perubahan dalam masyarakat.    
8.      Peperangan   
Peperangan adalah  pertentangan antara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Peperangan dianggap sebagai pembawa perubahan dalam masyarakat karena dengan terjadinya peperangan, maka dapat menyebabkan disorganisasi dalam kelompok yang berperang, tidak perduli apakah mereka menang atau kalah (Maryati & Suryawati, 2010).      
9.      Kebudayaan masyarakat lain   
Salah satu pembawa perubahan dalam masyarakat adalah adanya kebudayaan dari kelompok masyarakat lain, misalnya dari negara lain. 
2.1    Hubungan antara perubahan sistem personalia(perilaku individu) dan perubahan sistem peradaban (civilization)
Individu tidak dapat terpisahkan dari kelompok, begitu juga kelompok tidak dapat terpisahkan dari masyarakat. Ketiga aspek itu saling berkaitan. Apabila keadaan individu baik, keadaan kelompok juga akan baik dan begitu juga sebaliknya. Perubahan sistem personalia(perilaku individu) yang terjadi dan dialami oleh setiap individu tidak terlepas dari perubahan sistem peradaban.








BAB III
KESIMPULAN
Perubahan terjadi dalam setiap sendi kehidupan masyarakat,   Kita semua berharap pada setiap perubahan terjadi yang akan mewujudkan harapan dan cita-cita setiap individu sebagai personalitas dan masyarakat sebagai komplementer.
Karena terwujudnya suatu tatanan kehidupan yang harmonis dalam suatu lingkungan yang damai adalah harapan setiap insan di dunia dan meskipun dengan meniadakan sama sekali terjadinya konflik adalah suatu hal yang tidak mungkin disebabkan banyaknya kepentingan individu (egoistis, atomistis) dalam mencapai tujuannya dan individu di dalam suatu masyarakat (kolektivistis) terkadang memungkinkan  terjadinya konflik dan penyerapan konflik diupayakan melalui hasrat yang bersifat mengatur atau menjaga keseimbangan karena apabila tidak suatu fungsi yang mengatur atau menjaga keseimbangan maka kedua kepentingan tersebut akan tidak dapat dikendalikan.

DAFTAR PUSTAKA
Dewati, Rangga.2014.  Bahan Ajar Sosiologi Semester 2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
https://infosos.wordpress.com/kelas-xii-ips/perubahan-sosial/ diakses tanggal 5 April 2018
Maryati, Juju Suryawati. Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta : Gelora Aksara Pratama
Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Pengantar. Jakarta : Rajawali Press
Solihat, Ihat.2014. Bahan Ajar Perilaku Manusia dan Lingkungan Sosial. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
TaupanM.Sosiologi untuk SMA/MA Kelas X. Bandung : Penerbit Yrama Widya

Wednesday, September 19, 2018

PERUBAHAN SOSIAL


BAB I
PENDAHULUAN
1.      LATAR BELAKANG
Secara biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan menurut Ensiklopedi Amerika,perilaku adalah suatu aksi reaksi organisme terhadap lingkungan. Perilaku timbul apabila ada sesuatu yang dapat menimbulkan reaksi, yakni disebut dengan rangsangan. Menurut Ribert Kwick(1974) perilaku adalah tindakan atau perilaku suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari. Secara umum perilaku manusia pada hakekatnya adalah proses interaksi individu dengan lingkungan sebagai manivestasi hayati bahwa dia adalah makhluk hidup.
Individu merupakan unit terkecil pembentuk masyarakat.  Dalam ilmu sosial, individu berarti juga bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisahkan lagi menjadi bagian yang lebih kecil.  Sebagai contoh, suatu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak.  Pada dasarnya, setiap individu memiliki ciri-ciri yang berbeda.
Individu tidak dapat terpisahkan dari kelompok, begitu juga kelompok tidak dapat terpisahkan dari masyarakat. Ketiga aspek itu saling berkaitan. Apabila keadaan individu baik, keadaan kelompok juga akan baik dan begitu juga sebaliknya.
Perubahan dalam masyarakat dapat disebabkan oleh banyak hal antara lain pembangunan dan modernisasi. Pembangunan merupakan suatu perubahan yang pada umunya terjadi karena disengaja.
Modernisasi merupakan perubahan masyarakat dan kebudayaan dalam seluruh aspeknya dari hal-hal yang bersifat tradisional menuju hal-hal yang bersifat modern yang memungkinkan ternjadinya proses pergeseran sikap dan mentalitas warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan zaman.
Modernisasi terjadi di hampir seluruh aspek atau bidang hidup masyarakat seperti pendidikan, agama, politik, kesehatan, ekonomi, teknologi dan lain-lain. Namun modernisasi berbeda dengan westernisasi. Westernisasi adalah sikap meniru dan menerapkan unsur kebudayaan barat sebagaimana adanya, tanpa diseleksi (Ruswanto, 2009b). Dikatakan lebih jauh oleh Ruswanto (2009b) westernisasi terjadi melalui interaksi sosial yang berupa kontak sosial langsung ataupun tidak langsung, seperti melalui media massa dan lain-
2.      RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latarbelakang diatas, masalah yang diangkat penulis sebagai berikut:
1.      Faktor apa yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam sistem personalia (perilaku indidu)
2.      Faktor apa yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam sistem peradaban (civilization)?
3.      Bagaimana hubungan antara perubahan sistem personalia(perilaku individu) terhadap perubahan sistem peradaban (civilization)?
3.      TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai adalah:

1.      Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya perubahan dalam sistem personalia (perilaku indidu)
2.       Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya perubahan dalam sistem peradaban (civilization)
3.      Untuk mengetahui hubungan antara perubahan sistem personalia(perilaku individu) terhadap perubahan sistem peradaban (civilization)








BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sistem Personalia
            Suatu perbuatan dimulai dengan adanya suatu ketidakseimbangan dalam diri individu, hal ini menimbulkan kebutuhan kemudian timbul gerakan atau motif untuk berperilaku dan terjadilah keseimbangan dalam diri seperti rasa puas dan gembira. Keadaan seimbang itu tidak akan berlangsung untuk selama-lamanya, karena setelah beberapa saat akan timbul ketidakseimbangan lagi, yang menyebabkan seluruh proses motivasi terulang.
Faktor- faktor yang mempengaruhi perilaku manusia juga dapat dilihat dari:
1.      Faktor Internal
Perilaku manusia adalah corak kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh faktor yang ada dalam dirinya. Faktor-faktor intern yang dimaksud adalah:
a.    Jenis Ras atau Keturunan
Setiap ras yang ada di dunia memperlihatkan perilaku yang khas. Perilaku khas ini berbeda pada setiap ras, karena memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri perilaku ras Negroid antara lain bertemperamen keras, tahan menderita, menonjol dalam kegiatan olah raga. Ras Mongolid mempunyai ciri ramah, senang bergotong royong, agak tertutup/pemalu dan sering mengadakan upacara ritual. Demikian pula beberapa ras lain memiliki ciri perilaku yang berbeda pula.
b.    Jenis Kelamin
Perbedaan perilaku berdasarkan jenis kelamin antara lain cara berpakaian, melakukan pekerjaan sehari-hari, dan pembagian tugas pekerjaan. Perbedaan ini bisa dimungkikan karena faktor hormonal, struktur fisik maupun norma pembagian tugas. Wanita seringkali berperilaku berdasarkan perasaan, sedangkan orang laki-laki cenderung berperilaku atau bertindak atas pertimbangan rasional.
c.     Sifat Fisik
Kretschmer Sheldon membuat tipologi perilaku seseorang berdasarkan tipe fisiknya. Misalnya, orang yang pendek, bulat, gendut, wajah berlemak adalah tipe piknis. Orang dengan ciri demikian dikatakan senang bergaul, humoris, ramah dan banyak teman.
d.    Kepribadian
Kepribadian adalah segala corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsang baik yang datang dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak dan kebiasaan itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas untuk manusia itu. Dari pengertian tersebut, kepribadian seseorang jelas sangat berpengaruh terhadap perilaku sehari-harinya.
e.     Intelegensi
Intelegensia adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah dan efektif. Bertitik tolak dari pengertian tersebut, perilaku individu sangat dipengaruhi oleh intelegensia. Perilaku yang dipengaruhi oleh intelegensia adalah perilaku intelegen di mana seseorang dapat bertindak secara cepat, tepat, dan mudah terutama dalam mengambil keputusan.
f.      Bakat
Bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya berupa kemampuan memainkan musik, melukis, olah raga, dan sebagainya.

2.      Faktor Eksternal
a.     Pendidikan
Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses belajar mengajar adalah seperangkat perubahan perilaku. Dengan demikian pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan rendah.
b.     Agama
Agama akan menjadikan individu berperilaku sesuai dengan norma dan nilai yang diajarkan oleh agama yang diyakininya.
c.     Kebudayaan
Kebudayaan diartikan sebagai kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia. Perilaku seseorang dalam kebudayaan tertentu akan berbeda dengan orang yang hidup pada kebudayaan lainnya, misalnya perilaku orang Jawa dengan perilaku orang Papua.
d.     Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya. Individu terus berusaha menaklukkan lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat dikuasainya.
e.     Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi seseorang akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi perilaku seseorang.    
2.2  Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sistem peradaban (civilization)
Terjadinya perubahan dalam masyarakat, pada prinsipnya berasal dari sifat manusia yang tidak akan pernah puas dan mudah bosan dengan keadaan yang dialaminya. Perubahan sosial dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri (internal) atau faktor-faktor yang berasal dari luar masyarakat itu sendiri (eksternal). Soekanto (dalam Wrahatnala, 2009); Wrahatnala, (2009); Maryati & Suryawati (2010) menjelaskan faktor-faktor yang dapat membawa perubahan dalam masyarakat. Adapun faktor-faktor tersebut adalah:
1.      Kemiskinan
Kemiskinan adalah suatu keadaan dimana individu tidak sanggup memelihara dirinya sendiri secara layak serta tidak mampu memanfaatkan tenaga mental dan fisiknya dalam kelompoknya (Maryati & Suryawati, 2010). Dengan situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu, maka semakin banyak masyarakat yang masuk ke dalam kategori ini. Kemiskinan membawa berbagai perubahan dalam masyarakat.    .
2.      Adanya Pertambahan penduduk 
Pertambahan penduduk menyebabkan adanya konsekuensi adanya penambahan tempat tinggal, lapangan pekerjaan, sistem kekeluargaan, kebutuhan akan bahan makanan dan lain-lain.     
3.       Adanya konflik sosial  
Konflik sosial dapat membawa perubahan dalam masyarakat. Salah satunya karena konflik sosial membawa potensi adanya kekerasan dalam masyarakat. Contohnya adalah perseteruan antara pendukung sepak bola, tawuran dan lain-lain. Meski demikian tidak setiap konflik sosial berakhir dengan kekerasan.     
4.      Adanya pemberontakan     
Pemberontakan seperti revolusi, dan sejenisnya dapat membawa perubahan dalam masyarakat di sekitarnya.
5.      Berkurangnya penduduk   
Berkurangnya penduduk dapat disebabkan karena bencana alam, peperangan, atau dan lain sebagainya.          
6.      Inovasi atau Penemuan baru   
Penemuan baru juga dapat membawa perubahan dalam masyarakat.
7.      Lingkungan alam   
Perubahan yang terjadi di lingkungan alamiah kita dapat membawa suatu perubahan dalam masyarakat.    
8.      Peperangan   
Peperangan adalah  pertentangan antara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Peperangan dianggap sebagai pembawa perubahan dalam masyarakat karena dengan terjadinya peperangan, maka dapat menyebabkan disorganisasi dalam kelompok yang berperang, tidak perduli apakah mereka menang atau kalah (Maryati & Suryawati, 2010).      
9.      Kebudayaan masyarakat lain   
Salah satu pembawa perubahan dalam masyarakat adalah adanya kebudayaan dari kelompok masyarakat lain, misalnya dari negara lain. 
2.1    Hubungan antara perubahan sistem personalia(perilaku individu) dan perubahan sistem peradaban (civilization)
Individu tidak dapat terpisahkan dari kelompok, begitu juga kelompok tidak dapat terpisahkan dari masyarakat. Ketiga aspek itu saling berkaitan. Apabila keadaan individu baik, keadaan kelompok juga akan baik dan begitu juga sebaliknya. Perubahan sistem personalia(perilaku individu) yang terjadi dan dialami oleh setiap individu tidak terlepas dari perubahan sistem peradaban.








BAB III
KESIMPULAN
Perubahan terjadi dalam setiap sendi kehidupan masyarakat,   Kita semua berharap pada setiap perubahan terjadi yang akan mewujudkan harapan dan cita-cita setiap individu sebagai personalitas dan masyarakat sebagai komplementer.
Karena terwujudnya suatu tatanan kehidupan yang harmonis dalam suatu lingkungan yang damai adalah harapan setiap insan di dunia dan meskipun dengan meniadakan sama sekali terjadinya konflik adalah suatu hal yang tidak mungkin disebabkan banyaknya kepentingan individu (egoistis, atomistis) dalam mencapai tujuannya dan individu di dalam suatu masyarakat (kolektivistis) terkadang memungkinkan  terjadinya konflik dan penyerapan konflik diupayakan melalui hasrat yang bersifat mengatur atau menjaga keseimbangan karena apabila tidak suatu fungsi yang mengatur atau menjaga keseimbangan maka kedua kepentingan tersebut akan tidak dapat dikendalikan.

DAFTAR PUSTAKA
Dewati, Rangga.2014.  Bahan Ajar Sosiologi Semester 2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
https://infosos.wordpress.com/kelas-xii-ips/perubahan-sosial/ diakses tanggal 5 April 2018
Maryati, Juju Suryawati. Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta : Gelora Aksara Pratama
Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Pengantar. Jakarta : Rajawali Press
Solihat, Ihat.2014. Bahan Ajar Perilaku Manusia dan Lingkungan Sosial. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
TaupanM.Sosiologi untuk SMA/MA Kelas X. Bandung : Penerbit Yrama Widya

Tuesday, April 24, 2018


BAB V           
 LEMBAGA KEMASYARAKATAN (LEMBAGA SOSIAL)
Lembaga Kemasyarakatan adalah himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat. Wujud konkrit lembaga kemasyarakatan tersebut adalah asosiasi. Contoh: Universitas adalah Lembaga Kemsayarakatan, Sedangkan Universitas Komputer Indonesia, Universitas Padjadjaran adalah asosiasi.
Proses Pertumbuhan Lembaga Kemasyarakatan
1.      Norma-norma masyarakat
            Ada empat pengertian norma atau dimana dasar norma tersebut sama, yaitu memberikan pedoman bagi seseorang untuk bertingkah laku dalam masyarakat. Pertama, cara (usage) menunjuk pada suatu bentuk perbuatan. Kedua, kebiasaan (folkways) adalah perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama. Ketiga, tata kelakuan (mores) merupakan kebiasaan yang dianggap sebagai cara berperilaku dan diterima norma-norma pengatur. Keempat, adat istiadat (customes) adalah tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat. Ada sanksi penderitaan bila dilanggar.
            Proses yang terjadi dalam rangka pembentukannya sebagai lembaga kemasyarakatan, yaitu sebagai berikut. (1) proses pelembagaan (institutionalization), yakni suatu proses yang dilewati oleh sesuatu norma kemasyarakatan yang baru untuk menjadi bagian dari salah satu lembaga kemasyarakatan. (2) norma-norma yang internalized artinya proses norma-norma kemasyarakatan tidak hanya berhenti sampai pelembagaan saja, tetapi mendarah daging dalam jiwa anggota-anggota masyarakat.
2.      System pengendalian social (social control)
Agar anggota masyarakat taat pada norma yang berlaku, diciptakan system pengendalian social, yang bersifat; preventif/positif  dan represif/negative. Alat-alat pengendalian social dapat digolongkan ke dalam paling sedikit lima golongan, yaitu: (a) mempertebal keyakinan anggota masyarakat akan kebaikan norma-norma kemasyarakatan; (b) memberikan penghargaan kepada anggota masyarakat yang taat pada norma-norma kemasyarakatan; (c) mengembangkan rasa malu dalam diri atau jiwa anggota masyarakat bila mereka menyimpang atau menyeleweng dari norma-norma kemasyarakatan dan nilai-nilai yang berlaku; (d) menimbulkan rasa takut; (e) mencitakan system hokum, yaitu system tata tertib dengan sanksi yang tegas bagi para pelanggar.
Ciri-ciri Umum dan Fungsi Lembaga Kemasyarakatan
Menurut Gillin dan Gillin, beberapa ciri umum lembaga kemasyarakatan antara lain :(1) Suatu lembaga kemasyarakatan adalah organisasi pola-pola pemikiran dan pola-pola perilaku yang terwujud melalui aktivitas kemasyarakatan dan hasil-hasilnya. Lembaga kemasyarakatan terdiri dari adat-istiadat, tata-kelakuan, kebiasaan serta unsur-unsur kebudayaan lainnya yang secara langsung maupun tidak langsung tergabung dalam satu unit yang fungsional. (2) Suatu tingkat kekelan tertentu merupakan ciri dari semua lembaga kemasyarakatan. Sistem-sistem kepercayaan dan aneka macam tindakan, baru akan menjadi bagian lembaga kemasyarakatan setelah melewati waktu yang relatif lama.(3) Lembaga kemasyarakatan mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu.(4) Lembaga kemasyarakatan mempunyai alat-alat perlengkapan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan, seperti bangunan, peralatan, mesin dan lain sebagainya. Bentuk serta penggunaan alat-alat tersebut biasanya berlainan antara satu masyarakat dengan masyarakat lain.(5) Lambang-lambang biasanya merupakan ciri khas dari lembaga kemasyarakatan. Lambang-lambang tersebut secara simbolis menggambarkan tujuan dan fungsi lembaga yang bersangkutan.(6) Suatu Lembaga kemasyarakatan mempunyai tradisi tertulis atau yang tidak tertulis, yang merumuskan tujuannya, tata tertib yang berlaku dan lain-lain.
Tipe-tipe Lembaga Kemasyarakatan
 Tipe-tipe lembaga kemasyarakatan, dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (a) dari sudut perkembangannya yaitu, crestive institutions dan enacted institutions, (b) dari sudut system nilai-nilai yang diterima masyarakat yaitu, basic institutions dan subsidiary institutions, (c) dari sudut penerimaan masyarakat yaitu approved socially sanctioned institutions dan regulative, dan (e) dari sudut fungsinya yaitu operative institutions dan  restricted institutions.
Cara-Cara Mempelajari Lembaga Kemasyarakatan
            Cara-cara pendekatan atau mempelajari lembaga kemasyarakatan dapat dirinci ke dalam: (a) analisis secara historis, bertujuan meneliti sejarah timbul dan perkembangan suatu lembaga kemasyarakatan tertentu, (b) analisis komparatif, bertujuan menelah suatu lembaga kemasyarakatan tertentu dalam pelbagai masyarakat berlainan ataupun pelbagai lapisan social masyarakat tersebut,dan  (c) analisis fungsional, lembaga-lembaga kemasyarakatan dapat pula diselidiki dengan jalan menganalisis hubungan antara lembaga-lembaga tersebut di dalam suatu masyarakat tertentu.