BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan dalam bidang pembangunan
yang berkaitan dengan bagaimana desa menjadi acuan penting dami meningkatkan
kesejahteraan masyarakat pada masa sekarang lebih lanjut di masa modernisai
saat ini. Suatu pembangunan desa saat ini tentunya sudah menjadi sorotan utama
yang patut untuk diperhatikan delam mengembangkan potensi yang ada di sebuah
negara berkembang khususnya Indonesia. Hal ini juga tidak kalah pentingnya
terhadap bagaimana persoalan petani yang hingga kini masih menjadi masalah
utama dalam proses pertaniannya, sehingga petani sendiri masih belum
mendapatkan kesempatan untuk merubah hidup mereka ke arah yang lebih baik.
Dalam Poju Suharso (2002:8) konsep
modernisasi pertanian untuk menyebutkan fenomena komersial dan monetisasi di
bidang pertanian sebenarnya telah dikenal cukup lama. Secara historis fenomena
modernisasi ini telah berkembang sejak zaman pro kolonial hingga berlanjut pada
masa kolonial. Namun, fenomena modernisasi pertanian ini di Indonesia menemukan
artikulasinya secara meluas sejak awal tahun 1970-an, tapat ketika negeri ini
mengintroduksi ‘revolusi hijau’ dan penetrasi teknologi baru di bidang
pertanian (Nasikum, dkk. 1989). Maka dari itu, pembaharuan yang terjadi
terutama dalam bidang teknologi serta bagaimana cara pemasaran yang akan
menentukan terhadap keberhasilan serta kesejahteraan masyarakat petani pada
umumnya dengan kata lain untuk mendukung perkembangan masyarakat pedesaan.
Seiring perkambangan zaman serta
pengetahuan manusia yang semakin luas maka dengan hal itu pula hadir berbagai
macam cara untuk membangun perkembangan di bidang pertanian hal itu juga tidak
lepas dari perkembangan teknlogi dan pengetahuan para petani terhadap teknologi
itu sendiri. Akan tetapi seiring dengan perkembangan tersebut, pertanian serta
masalah yang dihadapi para petani sekarang sangatlah beragam mulai dari
bagaimana cara bertani yang baik, mendapatkan modal, samopai pada proses
pemasaran yang masih belum mendapat sentuhan dari pemerintah tentang bagaimana
tata cara dalam proses pemasaran yang baik. Hal ini juga dapat kita lihat di
berbagai daerah yang masih belum mengerti dengan teknologi serta minimnya
relasi antar warga di desa tersebut dengan beberapa instansi yang terkait
dengan pertanian serta proses pemasarannya.
Berdasarkan observasi dilapangan,
bagaimana masyarakat atau para pentani kecamatan Senduro menyatakan bahwa
mereka mulai menemukan cara tersendiri dalam memasarkan hasil pertaniannya
terutama komuditas buah yang sekarang menjadi sangan fenomenal sekali adalah
buah pisang “Mas Kirana”. Masyarakat Lumajang terutama di Desa Kandang Tepus
kecamatan Senduro memiliki komuditas tanaman buah yang menggelobal dan menjadi
ikon di kabupaten tersebut. Hal itu terjadi karena hadirnya buah pisang yang
sangat menggugah selera tentang rasa dan aromanya. Dimana fenomena tersebut
tidak hanya menjadi wacana publik di daerah Lumajang saja akan tetapi kehadiran
buah primadone tersebut sudah menjadi wacana sampai diluar negeri. Namun tidak
akan menjadi suatu wacana besar ketika kehadiran komuditas buat tersebut hanya
menjadi bahan makanan sehari-hari para petani. Lepas dari petani subsistem yang di anut oleh kebanyakan daerah di
Indonesia tentunya harus melakukan inovasi agar pisang yang di hasilkan dapat
dikenal oleh kalangan luas baik nasional maupun internasional.
Dengan kata lain keadaan tersebut
memunculkan suatu keinginan untuk mempromosikan hasil dari pertania tersebut
dan tentunya memerlukan jaringan ekonomi untuk menupang hal tersebut sehingga
dapat laku di pasaran dan dikenal banyak orang. Menarik untuk menjadi bahan
pembicaraan ketika proses pemasaran serta jaringan ekonomi para petani sampai
menjadi mengglobal. Sehingga terdapat tiga hal yang menjadi kata kunci, Petani
pisang dan Jaringan ekonomi, Teknologi informasi, dan pasar.
Hal diatas yang melatar belakangi
penulis untuk mengangkat judul penelitian: “Jaringan Petani Dalam Proses
Pemasaran Pisang Mas Kirana (Studi Kasus Kelompok Tani dan Para Petani Pisang
di Desa Kandang Tepus Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang)
B. Rumusan
masalah
1.
Berdasarkan
latar belakang diatas maka penulis menguraikan rumusan masalah dibawah ini:
2.
Bagaimana
cara petani dalam memasarkan hasil pertaniaanya?
3.
Bagaimana
peran kelompok tani dalam proses pemasaran?
4.
Bagaimana
pandangan petani tentang pasang surutnya harga pasar?
C. Tujuan
Penelitian
1.
Berdasarkan
rumusan masalah diatas, maka peneliti ini bertujuan:
2.
Untuk
mengetahui cara petani dalam memasarkan hasil pertaniannya
3.
Untuk
mengetahui peran kelompok tani dalam proses pemasaran
4.
Untuk
mengetahui pandangan tentang petani pasang surutnya harga pasar
D. Manfaat
penelitian
Adapun manfaat yang
diharapkan dari hasil penelitian yang penulis lakukan adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Akademis
a.
Diharapkan
penelitian ini dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat terhadap perkembangan
teori sosiologi.
b.
Diharapkan
dapat memperkaya kepustakaan tentang Jaringan Petani Dalam Proses Pemasaran
pisang mas pada suatu daerah tertentu, dan dapat menjadi perbandingan dengan
daerah lain.
2. Manfaat Praktis
Diharapkan dengan adanya penelitian tentand
Jaringan Petani Dalam Proses Pemasaran Pisang Mas Kirana yang dilakukan di
Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang, maka hasil penelitian ini depat memberi
sumbangsih kepada para petani kurang mampu dan kurang mengetahui tentang proses
pemasaran pertanian agar mampu mengatasi masalah kemiskinan pada umumnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep
Pertanian
A.T Mosher (1968:19) mengartikan,
pertanian adalah sejenis proses produksi khas yang didasarkan atas proses
pertumbuhan tanaman dan hewan. Kegiatan-kegiatan produksi didalam setiap usaha
tani merupakan suatu bagian usaha, dimana biaya dan penerimaan adalah penting.
Tumbuhan merupakan pabrik pertanian yang primer. Ia mengambil gas
karbondioksida dari udara melalui daunnya. Diambilnya air dan hara kimia dari dalam
tanah melalui akarnya. Dari bahan-bahan ini, dengan menggunakan sinar matahari,
ia membuat biji, buah, serat dan minyak yang dapat digunakan oleh manusia.
Pertumbuhan tumbuhan dan hewan liar
berlangsung di alam tanpa campur tangan manusia. Beribu-ribu macam tumbuhan di
berbagai bagian dunia telah mengalami evolusi sepanjang masa sebagai reaksi
terhadap adanya perbedaan dalam penyinaran matahari, suhu, jumlah air atau
kelembaban yang tersedia serta sifat tanah. Tiap jenis tumbuhan menghendaki
syarat-syarat tersendiri terutama tumbuhnya pada musim tertentu.
Tumbuhan yang tumbuh di suatu daerah
menentukan jenis-jenis hewan apakah yang hidup di daerah tersebut, karena
beberapa di antara hewan itu memakan tumbuhan yang terdapat di daerah tersebut,
sedangkan lainnya memakan hewan lain. Sebagai akibatnya terdapatlah kombinasi
tumbuhan dan hewan di berbagai dunia.
Pertanian terbagi ke dalam pertanian
dalam arti luas dan pertanian dalam arti sempit (Mubyarto, 1989:16-17). Pertanian
dalam arti luas mencakup:
1.
Pertanian
rakyat atau disebut sebagai pertanian dalam arti sempit.
2.
Perkebunan (termasuk didalamnya perkebunan rakyat
atau perkebunan besar
3.
Kehutanan.
4.
Peternakan.
5.
Perikanan
(dalam perikanan dikenal pembagian lebih lanjut yaitu perikanan darat dan
perikanan laut).
Sebagaimana telah disebutkan di atas, dalam arti
sempit pertanian diartikan sebagai pertanian rakyat yaitu usaha pertanian
keluarga di mana diproduksinya bahan makanan utama seperti beras, palawija
(jagung, kacang-kacangan dan ubi-ubian) dan tanaman-tanaman hortikultura yaitu
sayuran dan buah-buahan. Pertanian rakyat yang merupakan usaha tani adalah
sebagai istilah lawan dari perkataan “farm” dalam Bahasa Inggris. Pertanian
akan selalu memerlukan bidang permukaan bumi yang luas yang terbuka terhadap sorotan
sinar matahari. Pertanian rakyat diusahakan di tanah-tanah sawah, ladang dan
pekarangan. Di dalam pertanian rakyat hampir tidak ada usaha tani yang
memproduksi hanya satu macam hasil saja. Dalam satu tahun petani dapat
memutuskan untuk menanam tanaman bahan makanan atau tanaman perdagangan.
Alasan petani untuk menanam bahan makanan terutama
didasarkan atas kebutuhan makan untuk seluruh keluarga petani, sedangkan alasan
menanam tanaman perdagangan didasarkan atas iklim, ada tidaknya modal, tujuan
penggunaan hasil penjualan tanaman tersebut dan harapan harga.
B. Kajian
Kelompok
Dalam pertanian tentunta banya peran dari berbagai
institusi baik perorangan ataupun kelompok yang nantinya akan memberikan dampak
positif bagi para petani serta menjadikan relasi para petani dengan
kelompok-kelompok petani yang lain terjalin dengan sebaik mungkin. Akan tetapi
ada berbagai sudut pandang menganai kelompok itu sendiri, dalam bukunya Abu
Huraerah dan Purwanto (2006:3) menjelaskan bahwa terdapat banyak pandangan dan pendekatan
mengenai pengertian kelompok itu sendiri dalam mengkonsepsikannya.
Kemudian para ahli membahas dari sisi yang berbeda
dari pengertian kelompok itu dengan berbagai sudut pandang yang mendasarkan
pada: persepsi, tujuan kelompok, organisasi kelompok, interdependensi, dan
interaksi. Berdasarkan pada pengertian dari berbagai sudut pandang tersebut Abu
Huraera dan Purwanto mengatakan dalam bukunya Dinamika Kelompok (2006:6) bahwa
kelompok adalah sekumpulan orang yang terdiri paling tidak sebanyak dua atau
lebih yang melakukan interaksi satu dengan yang lainnya dalam suatu aturan yang
saling mempengaruhi pada setiap anggotanya. Dengan demikian pada kelompok akan
dijumpai berbagai proses seperti persepsi, adanya kebutuhan pada setiap
anggota, interaksi, dan sosialisasi. Proses-proses tersebut akan merupakan
suatu yang dinamis, ketika terjadi interaksi antar anggota kelompok. Dengan
demikian, kelompok terjadi karena adanya suatu sinergi kelompok yang diarahkan pada tujuan kelompok.
1. Bentuk-Bentuk
Kelompok Sosial
Dalam bukunya Abu Huraerah dan Purwanto (2006: 9-12)
mengemukakan ada beberapa jenis atau bentuk kelompok yang bisa ditemukan dalam
berbagai literatur sosiologi maupun psikologi sosial. Klasifikasi bentuk-bentuk
kelompok ini didasarkan pada sudut pandang masing-masing ahli, seperti berikut
ini:
a.
Kelompok
Primer (Primary Group) dan Kelompok Sekunder (Secondary Group)
Menurut Cooley, dalam Dinamika Sosial Abu Huraerah
dan Purwanto bahwa Primary Group adalah kelompok yang ditandai ciri-ciri kenal
mengenal antara anggota-anggotanya serta kerjasama erat yang bersifat pribadi.
Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok besar yang terdiri banyak orang
siapa hubungannya tak perlu didasarkan kenal-mengenal secara pribadi, dan
sifatnya juga tak begitu langgeng, contoh: bangsa. Hubungan kontrak atau jual
beli (Soekanto, 1986: 117-118).
b.
Gemienschaft
dan Gesellschaft
Klasifikasi kelompok ini dikemukakan oleh Ferdinand
Tonnies yang menjelaskan tentang hubungan positif antara manusia selalu
bersifat Gemienschaft atau Gesellschaft. Gemienschaft adalah bentuk kehidupan
bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan
bersifat alamiah serta bersifat kekal. Sebaliknya, Gesellschaft merupakan
ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat
sebagai suatu fikiran belaka (imaginary) serta strukturnya bersifat
mekanissebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin.
c.
Formal
Group dan Informal Group
Formal group adalah kelompok-kelompok yang mempunyai
peraturan-peraturan yang tegas dan dengan sengaja diciptakan oleh
anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antar anggota, misalnya peraturan
untuk memilih ketua, pemungutan uang iuran, dan sebagainya (Soekanto, 1986:
122).
Sedangkan informal group tidak mempunyai struktur dan organisasi pasti. Kelompok-kelompok tersebut terbentuk biasanya kerena pertamuan yang berulang kali menjadi dasar bagi bertamunya kepentingan-kepentingan dan pengalaman-pengalaman yang sama (Soekanto, 1986: 122-123).
Sedangkan informal group tidak mempunyai struktur dan organisasi pasti. Kelompok-kelompok tersebut terbentuk biasanya kerena pertamuan yang berulang kali menjadi dasar bagi bertamunya kepentingan-kepentingan dan pengalaman-pengalaman yang sama (Soekanto, 1986: 122-123).
d.
Membership
Group dan Reference Group
Membership Group adalah kelompok tempat seorang
menjadi anggota. Sedangkan Reference Group kelompok tempat seorang
mengidentifikasikan diri, menyetujui norma-normanya, tujuan, dan sikap individu
didalamnya (Soekanto, 1986: 34).
e.
In-Group
dan Out-Group
In-Group adalah kelompok sosial yang mana individu
mengidentifikasikan dirinya. Sedangkan Out-Group adalah individu yang menjadi
lawan “In-Group”, yang sering duhubungkan dengan istilah “kami” atau “kita” dan
“mereka” (Soekanto, 1986: 110).
2. Norma
Dalam Kelompok
Setelah mengetahui tentang berbagai macam jenis
kelompok yang sudah dipaparkan diatas, amaka ada baiknya jika kita juga
mengatahui tentang bagaimana norma yang seharusnya tertanam dalam kelompok yang
baik. Dalam buku Dinamika Kelompok yang ditulis oleh Abu Huraerah dan Purwanto
(2006: 32) mengemukakan norma menurut Goldbreg dan Larson menjelaskan bahwa
norma-norma mengatur tingkah laku kelompok. Norma itu terdiri dari gambaran
tentang bagaimana seharusnya mereka bertingkah laku. Norma terbagi dalam pola-pola
dan aspek-aspek yang dapat diperkirakan dari kegiatan maupun dari segi
pandangan kelompok. Para anggota yang mempunyai norma “kejujuran” tinggi tentu
akan bertingkah laku jujur terhadap satu dengan yang lain dan mereka akan
bersikap “ramah” satu dengan yang lain, jika ini juga merupakan suatu norma
kelompok (Soemiati dan Jusuf, 1985: 105).
C. Konsep
Pemasaran
Pemasaran adalah Suatu kegiatan usaha/bisnis untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen melalui pendistribusian suatu produk.
Beberapa ahli memberikan bermacam-macam defenisi tentang pemasaran, antara lain:
Beberapa ahli memberikan bermacam-macam defenisi tentang pemasaran, antara lain:
1.
Philip
dan Duncan: Pemasaran meliputi semua langkah yang dipergunakan untuk
menempatkan barang-barang nyata ketangan konsumen.
2.
W.J.
Stanton: Pemasaran meliputi keseluruhan sistem yang berhubungan dengan
kegiatan-kegiatan usaha, yang bertujuan merencanakan, menentukan harga, hingga
mempromosikan, dan mendistribusikan barang-barang atau jasa yang akan memuaskan
kebutuhan pembeli, baik yang actual maupun yang potensial.
3.
P.H.
Nyistrom: Pemasaran meliputi segala kegiatan mengenai penyaluran barang atau
jasa dari tangan produsen ketangan konsumen.
4.
American
Marketing Association: Pemasaran pelaksanaan kegiatan usaha niaga yang
diarahkan pada arus aliran barang dan jasa dari produsen kekonsumen.
Pemasaran Hasil Pertanian atau Tata niaga Pertanian
merupakan serangkaian kegiatan ekonomi berturut-turut yang terjadi selama
perjalanan komoditas hasil-hasil pertanian mulai dari produsen primer sampai ke
tangan konsumen (FAO pada tahun 1958).
Tinjauan pustaka yang telah dilakukan dengan kata
kunci petani pisang dan jaringan ekonomi menunjukkan bahwa:
·
Pernah
dilakukan penelitian tentang petani pisang namun hanya beda tempat serta
budaya.
·
Dilihat
dari kata kunci jaringan ekonomi petani pernah dilakukan penelitian namun yang
diteliti tentang bawang dan juga beda tempat yaitu di Kabupaten
Probolingo.
Penelitian ini menggunakan kerangka teorinya
Castell. Dimana wacana yang menghadirkan suatu kemampuan untuk mendapatkan
suatu keberhasilan dalam proses pemasaran suatu komoditas adalah dengan
memperbanyak jaringan baik lokal maupun interlokal yang nantinya akan menjurus
terhadap suatu jaringan ekonomi.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A. Waktu
dan Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di
Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Karena mengingat Lumajang adalah
Kabupaten yang dijuluki kota pisang jadi peneliti ingin menggali lebih dalam
tentang masyarakat pertanian yang ada di Kabupaten Lumajang terutama petani
pisang. Penelitian lebih lanjut akan dilaksanakan kurang lebih satu minggu
sampai data yang diinginkan peneliti dapat terpenuhi dengan sempurna. Observasi
dan wawancara dilakukan selama penyusunan proposal penelitian ini dilakukan dan
diselesaikan sampai titik terpenuhinya data atau informasi yang dibutuhkan oleh
peneliti.
Hal serupa yang menjadi
pilihan peneliti adalah karena letak Lumajang dengan Jember tidak terlalu jauh
dan rute jalan yang ditempuh juga mudah sehingga peneliti masih juga
melaksanakan aktivitas kuliah seperti biasanya.
B. Tipe
dan Dasar Penelitian
1. Tipe
Penelitian
Penelitian ini
menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, di mana penelitian
tersebut berusaha memberikan gambaran atau uraian yang bersifat deskriptif
mengenai suatu kolektifitas objek yang diteliti secara sistematis dan aktual mengenai
fakta-fakta yang ada.
2. Dasar
Penelitian
Dasar penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, yaitu dilakukan secara
intensif dalam mendetael dan komprehensif terhadap objek penelitian guna
menjawab permasalahan yang diteliti.
C. Teknik
Pengumpulan Data
Pada tahap ini peneliti
melakukan proses pengumpulan data dengan menggunakan teknik pengumpulan data
yang sudah dilakukan sejak awal. Proses pengumpulan data meliputi aktor
(informan), aktivitas, latau, atau konteks terjadinya peristiwa. Sebagai “alat
pengumpul data” (konsep human instument), peneliti harus pandai-pandai
mengelola waktu yang dimiliki, menampilkan diri, dan bergaul di tengah-tengah
masyarakat yang dijadikan subyek penelitiannya. Dan penelitian kualitatif bukan
hanya sekedar terkait dengan kata-kata, tetapi sesungguhnya yang dimaksud
dengan data dalam penelitian kualitatif adalah segala sesuatu yang dilihat, didengar,
dan diamati.
Adapun proses
pengambilan data kualitatif biasanya dilakukan dengan cara partisipant
observation (pangamatan terlibat), yaitu dengan cara peneliti melibatkan diri
dalam kegitan masyarakat yang ditelitinya, sejauh tidak mengganggu aktifitas
keseharian masyarakat tersebut. Pengamat terlibat merupakan jenis pengamatan
yang melibatkan peneliti dalam kegiatan orang yang bersangkutan dan tidak
menyembunyikan diri. Harapan dilakukannya proses ini adalah peneliti dapat
menemukan makna dibalik penelitian yang dilaksanakannya, baik tentang prilaku
ucapan ataupun simbol-simbol yang ada di masyarakat (Idrus, 2009: 149).
Pada pengumpulan data
primer, peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data antara lain:
1.
Observasi/
pengamatan
Observasi atau
pengamatan merupakan aktivitas pencatatan fenomena yang dilakukan secara
sistematis. Pengamatan dapat dilakukan secara terlibat (partisipatif) ataupun
nonpartisipatif. Maksudnya, pengamatan terlibat merupakan jenis pengamatan yang
melibatkan peneliti dalam kegiatan orang yang menjadi sasaran penelitian, tanpa
mengakibatkan perubahan pada kegiatan atau aktivitas yang bersangkutan dan
tentu saja dalam hal ini peneliti tidak menutupi dirinya selaku peneliti
2.
Wawancara
Wawancara yang dapat
dilakukan meliputi wawancara tak berencana tak berfokus dan wawancara sambil
lalu. Wawancara tak berfokus adalah pertanyaan yang diajukan secara tidak
terstruktur, namun selalu berpusat pasa satu masalah tententu. Wawancara sambil
lalu adalah wawancara yang tertuju kepada orang-orang terpilih tanpa melalui
seleksi terlebih dahulu secara diteliti, tetapi dijumpai secara kebetulan
(Koentjaraningrat, 1986; Danandjaja, 1988).
D. Analisis Data
Data yang diperoleh
dari hasil penelitian akan dianalisis secara kualitatif, di mana data yagn
didapat dilapangan, diolah kemudian disajikan dalam bentuk tulisan, dan tabel
frekuensi. Menyangkut analisis data kualitatif, menganjurkan tahapan-tahapan
dalam menganalisis data kualitatif sebagai berikut:
1.
Reduksi
data, yaitu menyaring data yang diperoleh dilapangan yang masih ditulis dalam
bentuk uraian atau laporan terperinci, laporan tersebut direduksi, dirangkum,
dipilih, difokuskan, pada bantuan program, disusun lebih sistematis, sehingga
mudah dipahami.
2.
Penyajian
data, yaitu usaha untuk menunjukkan sekumpulan data atau informasi, untuk
melihat gambaran keseluruhan atau begian tertentu dari penelitian tersebut.
3.
Kesimpulan,
merupakan proses untuk menjawab permasalahan dan tujuan sehingga ditentukan
saran dan masukan untuk pemecahan masalah.
DAFTAR
PUSTAKA
Huraerah, abu dan Purwanto. (2006). Dinamika
Kelompok: Konsep dan Aplikasi. Bandung: Refika Aditama.
Idrus, Muhammad. (2009). Metode Penelitian Ilmu
Sosial. Yogyakarta: Erlangga. Mobyarto. (1989). Pengantar Ekonomi Pertanian.
Jakarta: LP3ES
Mosher, A.T . (1968). Menggerakkan Dan Membangun Pertanian. Jakarta: C.V Yasaguna.
Soekanto, Soerjono. (1986). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Soemiati dan Gary R. Yusuf. (1985). Komunikasi Kelompok; Proses-proses Diskusi dan Penerapannya. Jakarta. UI-Press.
Mosher, A.T . (1968). Menggerakkan Dan Membangun Pertanian. Jakarta: C.V Yasaguna.
Soekanto, Soerjono. (1986). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Soemiati dan Gary R. Yusuf. (1985). Komunikasi Kelompok; Proses-proses Diskusi dan Penerapannya. Jakarta. UI-Press.
Suharso, Pujo. (2002). Tanah Petani Politik Pedesaan.
Solo: Pondok Edukasi.
Susanti, Elsi. Pemasaran Hasil Pertanian. (2012). (Online) http://pertanianstppmedan.blogspot.com/2012/11/pemasaran-hasil-pertanian.html.
Susanti, Elsi. Pemasaran Hasil Pertanian. (2012). (Online) http://pertanianstppmedan.blogspot.com/2012/11/pemasaran-hasil-pertanian.html.
No comments:
New comments are not allowed.